Sabtu, 19 Juli 2008

"Asal mula filsafat"

Sebelum kita mengetahui tahapan-tahapan ilmu filsafat, kita harus mengenal terlebih dahulu dari mana asal muasal munculnya ilmu filsafat? Setelah mengenal dari mana asalnya, barulah kemudian kita bisa membagi tahapan ilmu filsafat.

Berikut sedikit penjelasan tentang asal muasal filsafat. Pada dasarnya masalah tentang asal muasal filsafat masih ikhtilaf atau terdapat perbedaan pandangan. Disini kami mencoba memberi gambaran tentang asal muasal filsafat. Tapi saya sndiri lebih condong berpendapat bahwa filsafat berasal timur tengah.

Berbicara asal mula filsafat banyak tulisan yang mengasumsikan bahwa filsafat dimulai dari barat/Yunani, bagi penulis asumsi/statement ini tidak sepenuhnya benar. Menurut penulis satu ungkapan yang lebih benar adalah filsafat bermula dari Timur. banyak pendapat yang mengatakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Hemat penulis, lebih baik penulis petakan pendapat tentang asal mula filsafat menjadi tiga pendapat agar menjadi lebih jelas dan pembaca akan menilai sendiri dari mana sebenarnya asal mula filsafat, pendapat itu adalah sebagai berikut :

1. Pendapat yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari Yunani/Barat.
2. Pendapat kedua yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Timur.
3. Pendapat yang menggabungkan dua pendapat diatas (dan penulis termasuk yang setuju dengan pendapat ini)

Penulis akan jelaskan tiga pendapat diatas secara detail, meliputi tokoh-tokohnya, argumen/dalil pendapat mereka dan terakhir perbandingan antara ketiga pendapat tersebut.

Kelompok Pertama

Kelompok ini berpendapat bahwa filsafat berasal dari yunani atau barat, orang pertama yang mengungkapkan bahwa filsafat berasal dari yunani adalah filsuf terkenal dari yunani Aristoteles (384-322 SM) pada abad ke 4 Sebelum Masehi, ia pun berpendapat bahwa filsafatdikembangkan pertama kali oleh Thales (640-550 SM) pada pertengahan abad ke 6. Dan kelompok ini pun berpendapat bahwa orang-orang yunani adalah yang menemukan olahraga, ilmu alam, serta filsafat. Yang perlu penulis ungkapkan adalah banyak para pemikir barat yang berpendapat sama dengan pendapat pertama ini antaranya adalah Bertrand Russel, Hanry Piere dan lainnya. Dan yang paling mengejutkan adalah banyak dari para filsuf arab dan filsuf muslim yang berpendapat seperti para pemikir diatas, diantara mereka adalah Alfarabi (950-870 M) pengakuannya tentang filsafat dimulai dari yunani termuat dalam salah satu naskahnya tentang Plato dan Aristoteles (384-322 SM), ada juga Asy-Syahrastani serta Ibnu Kholdun yang sependapat dengan Alfarabi.

Argumen Mereka :

1. Kalimat Filsafat adalah kalimat Yunani asli, dan tidak terdapat pada bahasa dahulu manapun. Menurut bahasa yunani kata “filsafat” tediri dari 2 kata philos (kekasih, sahabat) dan sophia (kebijaksanaan, kearifan). dan orang yang pertama kali menggunakan kata ini adalah Pytaghoras sekitar tahun 582-507 SM.
2. Filsuf Dunia pertama adalah Thales (640-550 SM) berkewarganegaraan yunani, dan ia berbicara dengan bahasa yunani.
3. Penemu ilmu logika, ilmua alam, olahraga adalah orang yunani.

Kelompok kedua

kelompok ini berpendapat bahwa filsafat berasal dari timur/Islam tepatnya di beberapa negara antara lain adlah India, Persia, Irak dan Mesir Kuno. Para filsuf yang berbendapat sama dengan pendapat ini adalah Imam Ghazali (1111-1059 M), ia tulis dalam kitabnya al-Munqidz min adh-Dholal : Para Filsuf telah mengambil Kaidah-kaidah politik dari kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi-nabiNya. Selain Ghazali ada juga Alqifthi yang menulis dalam kitabnya Akhbar al-’Ulama. Dan yang menarik adalah ada beberapa dari para pemikir eropa yang sependapat dengan Ghazali dan Alqifthi, mereka adalah Will Durant dalam bukunya The Story of Cultural, George Shartoon dalam bukunya The History of Sciense, Masoon Orsel dalam bukunya Philosophy in east.

Argumen mereka :

1. Para ahli Riset telah menemukan bahwa awal pemikiran mulai berkembang di Timur.
2. Para sejarawan menyatakan bahwa para filsuf barat/yunani semisal Thales, Phytaghoras, Demokrithos (460-370 SM), Plato dan lain-lain telah menziarahi Mesir Kuno untuk mengambil berbagai ilmu.
3. Pemikiran-pemikiran barat adalah saduran dari pemikiran-pemikiran timur.

Kelompok ketiga

kelompok ini membagi asal mula filsafat menjadi dua fase (gabungan dari dua pendapat diatas). Fase pertama: filsafat (umum) sebagai sebuah pembahasan yang bersifat ‘aqli pada fisika dan metafisika itu berasal dari timur kuno. Fase kedua: filsafat (khusus) sebagai sebuah disiplin ilmu yang sudah sistematis (sudah banyak dikodifikasi melalui buku-buku) itu berasal dari barat/yunani.
Dari penjelasan diatas sudah jelas bahwa asal mula filsafat melewati dua fase, dalil yang menguatkan adalah timur mendahului barat dari sisi penemuan ilmu seperti: ilmu alam, astronomi dan lainnya, banyak filsuf barat yang mempelajari berbagai ilmu salah satunya adalah filsafat (tentunya belum sistematis) lalu mereka sempurnakan hingga menjadi disiplin ilmu yang sistematis. Analoginya seperti ini: Aristoteles adalah penemu ilmu logika, namun tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang timur sudah menemukan ilmu logika namun belum sistematis dan belum menjadikannya sebagai disiplin ilmu.
Nah, kiranya anda sudah bisa menyimpulkan dari mana sebenarnya filsafat itu berasal. Oke mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat.
(tulisan ini penulis —Peminat filsafat— racik dari berbagai sumber)

sejarah perkembangan filsafat

Masyarakat primitif menganut pemikiran
mitosentris yang mengandalkan mitos guna menjelaskan fenomena alam. Perubahan
pola pikir dari mitosentris menjadi logo-sentris membuat manusia bisa
membedakan kondisi riil dan ilusi, sehingga mampu ke-luar dari mitologi dan
memperoleh dasar pengetahuan ilmiah. Ini adalah titik awal ma-nusia menggunakan
rasio untuk meneliti serta mempertanyakan dirinya dan alam raya.

1.
Filsafat kuno dan abad pertengahan

Di masa ini, pertanyaan tentang asal usul
alam mulai dijawab dengan pendekat-an rasional, tidak dengan mitos. Subjek
(manusia) mulai mengambil jarak dari objek (alam) sehingga kerja logika (akal
pikiran) mulai dominan. Sebelum era
Socrates, kaji-an difokuskan pada alam yang berlandaskan spekulasi metafisik. Menurut
Heraklitos (535-475 SM), realita di alam selalu berubah, tidak ada yang tetap
(api sebagai simbol perubahan di alam) sementara Parmenides (515-440 SM)
mengatakan bahwa realita di alam merupakan satu kesatuan yang tidak bergerak
sehingga perubahan tidak mungkin terjadi.


Pada era Socrates, kajian filosofis mulai
menjurus pada manusia dan mulai ada pemikiran bahwa tidak ada kebenaran yang
absolut. Beberapa filosof populernya adalah Socrates (479-399 SM), Plato
(427-437 SM) dan Aristotles (384-322 SM).
Socrates mendefinisikan, menganalisis dan mensintesa kebenaran objektif
yang universal melalui metode dialog
(dialektika). Satu pertanyaan dijawab dengan satu jawaban. Plato mengembangkan konsep dualisme (adanya bentuk dan persepsi). Ide yang ditangkap oleh pikiran (persepsi)
lebih nyata dari objek material (bentuk) yang dilihat indra. Sifat persepsi tidak tetap dan bisa berubah,
sementara bentuk adalah sesuatu yang tetap. Aris-totles menyatakan bahwa materi
tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Fil-suf ini juga memperkenalkan
silogisme, yaitu penggunaan logika
berdasarkan analisis bahasa guna menarik kesimpulan. Silogisme memiliki dua
premis mayor dan satu ke-simpulan sehingga, suatu pernyataan benar harus sesuai
dengan minimal dua pernyataan pendukung. Logika ini disebut juga dengan logika deduktif yang mengukur valid tidak-nya
sebuah pemikiran.

Pada abad pertengahan (abad 12–13 SM) mulai
dilakukan analisis rasional terha-dap sifat-sifat alam dan Allah, analisis
suatu kejadian/materi, bentuk, ketidaknampakan, logika dan bahasa. Salah satu
filsufnya adalah Thomas Aquinas (1225-1274).

2.
Filsafat modern (abad 15 – sekarang)

Berkembang beberapa paham yang menguatkan
kedudukan humanisme sebagai dasar dalam perkembangan hidup manusia dan
pengetahuan. Paham rasionalisme me-nyatakan bahwa akal merupakan alat
terpenting untuk memperoleh dan menguji penge-tahuan. Kedaulatan rasio diakui
sepenuhnya dengan menyisihkan pengetahuan indra. Menurut Rene Descartes (paham
rasionalisme dan skeptisme), pengetahuan yang benar harus berangkat dari
kepastian. Untuk memastikan kebenaran sesuatu, segala sesuatu harus diragukan
terlebih dahulu. Keragu-raguan membuat manusia bertanya/mencari ja-waban untuk
memperoleh kebenaran yang pasti (manusia harus berpikir rasional untuk mencapai
kebenaran).

Pada paham empirisme, segala sesuatu yang
ada dalam pikiran didahului oleh pengalaman indrawi. Pengetahuan dikembangkan dari pengalaman indra
secara konkrit dan bukan dari rasio. Menurut
John Locke (empirisme dan naturalisme), pikiran awal-nya kosong. Isi pikiran (ide)
berasal dari pengalaman indrawi (lahiriah dan batiniah) ter-hadap substansi
(benda) di alam. David Hume (skeptisme dan empirisme) mengatakan ide atau
konsep didalam pikiran berasal dari persepsi (kesan terhadap pengalaman indra-wi)
dan gagasan (konsep makna dari kesan) terhadap suatu substansi, bukan dari substansinya.
Sementara menurut Francis Bacon, pengetahuan merupakan kekuatan un-tuk
menguasai alam. Pengetahuan diperoleh
dengan metode induksi melalui eksperi-men dan observasi terhadap suatu fenomena
yang ingin dikaji. Paham lainnya adalah
idealisme yang dianut Barkeley: ada disebabkan oleh adanya persepsi; dan paham
idealisme – kritisisme yang dikembangkan Imanuel Kant. Menurut Kant, hakikat
fisik adalah jiwa (spirit) dan pengetahuan adalah hasil pemikiran yang dihubungkan
dengan pengalaman indrawi. Paham ini menggabungkan konsep rasionalisme dengan
empiris-me. Paham positive-empiris
(Aguste Comte) menyatakan bahwa realita berjalan sesuai dengan hukum alam
sehingga pernyataan pengetahuan harus bisa diamati, diulang, diu-kur, diuji dan
diramalkan. Sementara paham pragmatisme William James menyatakan kebenaran
suatu pernyataan diukur dari kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional (bermanfaat) dalam kehidupan praktis. Pernyataan dianggap benar jika kon-sekuensi
dari pernyataan tersebut memiliki kegunaan praktis bagi manusia.

Sabtu, 14 Juni 2008

"NIKAH GA YAA"???

Sebagian filosof berkata: Melahirkan anak adalah perbuatan dosa, karena menyebabkan si anak harus menghadapi berbagai macam cobaan.

"Dalam kitab Al-jami' li Akhlaqi Ar-Rawy wa Adabi As-sami Khotib Al Baghdadi berkata: seorang penuntut ilmu di anjurkan untuk tidak menikah agar tidak di sibukkan dengan urusan rumah tangga atau mencari penghidupan"

"Imam ibnu Aljauzi menjelaskan dalam kitab "Shaidul Khotir hal 177 tentang metode waktu dan tempat yang tepat untuk mengahafal beliau berkata:
"Bagi orang yang sedang mencari ilmu di tuntut untuk sebisa mungkin untuk tidak menikah"

Begitu juga banyak dari ulama-ulama terdahulu yang tidak menikah di karenakan menuntut ilmu. Misalnya Ahmad bin Hambal, tidak menikah sampai umur 40 tahun, Yusuf Al Qawwas, Yusuf adalah orang yang tidak pernah tidur malam selama 40 tahun, dan setiap harinya hanya memakan lima biji kurma saja, dan ia selalu shalat subuh dengan menggunakan whudu' shalat 'isya. Tetapi setelah ia menikah Ummu Abdurrahman, semua itu tidak lagi ia lakukan.

"kemudian Imam Bisyri juga pernah bilang "ILmu akan hilang di antara paha kaum wanita"

Dan masih banyak lagi para ulama yang tidak mau menikah sampai akhir hayatnya. Seperti, Syeikh Al-Badawi, ia tidak mau menikah dengan alasan berjuang dengan ikhlas demi dakwah islamiyah, dan Abdullah bin Abu Najih Almakki, beliau seorang mufassir dan perawi yang dapat dipercaya " namanya: Abu yasar Abdullah bin Abu Najih. Tapi sayang beliau mengikuti faham Qodariyah.

Dan masih banyak lagi. Mereka para ulama tersebut menganggap bahwa dengan menikah akan mengurangi kemantapan dalam menuntut ilmu, karena jika menikah maka sudah pasti akan disbukkan dengan urusan keluarga, dan meninggalkan mencari ilmu, atau dengan menikah peluang untuk itu lebih minim.

Eeits… tunggu dulu.. jangan berfikir macam-macam dulu.. bukan berarti saya setuju dengan pendapat itu.. malah saya sangat tidak setuju dengan ungkapan yang dikatakan oleh sebagian filosof dan para ulama tersebut. karna Rasul bersabda:

Dari Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." Muttafaq Alaihi.

Dalam hadits ini kita sebagai generasi muda islam yang nantinya akan menjadi pemimpin, di anjurkan untuk segera menikah apabila telah mampu, mampu dalam memberikan nafkah, baik itu nafkah lahir maupun batin.

Tapi menurut hemat saya pendapat para sebagian filosof dan ulama yang mengatakan bahwa dengan menikah akan mengurangi semangat dalam menuntut ilmu, pendapat itu ada benarnya juga, karna akal dan logika bisa menerima hal tersebut, logikanya begini, ketika seseorang sedang menuntut ilmu, orang tersebut tidak memikirkan apapun selain pelajaran yang dia terima, nah apabila seseorang itu menikah, berkeluarga, secara otomatis orang tersebut mempunyai pikiran yang lebih berat yang membuat konsentrasi belajar berkurang dan mungkin akan lebih focus memikirkan keluarganya. Dan ini saya yakin anda semua juga sependapat dengan saya.

Nah sekarang bagaimana dengan pendapat yang mengatakan bahwa ketika kita kuliyah kita dilatih untuk hidup mandiri, pada waktu kuliyah semua pekerjaan kita sendiri yang lakukan, mulai dari pekerjaan dapur, mengurus rumah, dan memilih waktu yang tepat untuk belajar. Nah, jadi dengan berkeluarga ketika masih kuliyah termasuk bagian dalam rangka melatih diri, bagaimana caranya mengatur waktu antara belajar dan keluarga. dan ada juga yang berpendapat bahwa dengan berkeluarga ketika kuliyah akan meningkatkan prestasi dan lebih khusu di dalam ibadah.

Menurut logika saya, pendapat ini belum tentu benar sepenuhnya, saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa pada saat kuliyah adalah waktu untuk melatih diri dan kepribadian, tapi pendapat yang mengatakan "dengan menikah maka akan meningkatkan prestasi" saya kurang setuju, bagaimana mau berprestasi kalo tiap harinya disibukkan dengan memikirkan keluarga, apalagi jika isri hamil, atao istri lagi sakit, ato keuangan lagi menipis, belum lagi jika mempunyai anak, huuuhh… capek lah pokoknya…! Gak ada keluarga aja udah banyak pikiran.

Bukan maksud saya lebih mengutamakan logika, tetapi didalam menjalani hidup kita juga harus menggunakan akal yang telah Allah berikan, Allah yang memberi rezki, kesehatan, kekuatan, berfikir, dan nikmat-nikmat lainnya. kita percaya sepenuhnya kepada Allah SWT, tetapi untuk mendapatkan semua itu kita dituntut untuk usaha, nah dengan berfikir yang logis, itu termasuk dalam usaha untuk mendapatkan yang kita inginkan, dan tentunya di bantu dengan doa dan tawakal.

Mungkin anda akan mengatakan bahwa saya adalah seorang yang tidak percaya sama janji Tuhan, dan lebih takut kepada nasib dari pada tuhan. Bukanlah maksud saya untuk tidak percaya kepada janji tuhan, tetapi saya mencoba untuk mendapatkan janji tuhan tersebut dengan usaha yang logis. Karna usaha adalah salah satu factor untuk mendapatkan apa yang kita inginkan Sebagai seorang muslim yang percaya dan mengimani rukun iman, saya sangat percaya dengan janji tuhan,
Firman Allah:
"Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman" (Az zumar :52)

Wallahu'alam, semuanya adalah hak cipta dari Allah, apakah Allah akan memberikan rezki kepada orang yang hanya malas-malasan tanpa usaha? Tidak mungkin.. karna Allah telah menjadikan setiap sesuatu itu sebab dan musabab. Dan Apakah Allah akan memberikan rezki kepada orang yang berusaha, berdoa dan tawakal? Maka jawabannya "iya" (wallahu'alam)

Jadi, disini saya mengajak kepada anda semua untuk berusah memikirkan apa yang terbaik untuk kita lakukan sebelum melangkah kedepan, dan membutuhkan teori-teori yang logis sebelum terjun ke medan perang. Semuanya hanya milik Allah SWT,

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Wallahu'alam..

Senin, 09 Juni 2008

“ISLAM IBU KANDUNGKU”

Islam itu ibu kandungku…! begitulah ungkapan yang keluar jika seandainya filsafat punya mulut untuk bicara. Filsafat bukanlah anak haram islam, filsafat adalah anak kandung yang sah dari risalah kenabian, ia adalah sunah nabi dalam berfikir bukan bid’ah dari yunani, karna ia lahir dari kandungan kitab dan hikmah. Dan sangat-sangat perlu diingat bahwa filsafat itu ada dan memang perlu ada.

Ahlul hadits menentang keras terhadap filsafat, karna mereka (ahlul hadits) hanya berpegang pada nas-nas alquran dan hadits, dan tidak pada filsafat yang lebih mengedepankan logika dalam menentukan suatu masalah.

Ajaran filsafat pada hakikatnya bukanlah berasal dari barat ataupun yunani, tetapi filsafat berasal dari Negara-negara arab, seperti mesir dan india . filsafat pada mulanya ditemukan oleh para pemikir-pemikir islam, bukan yunani. Jadi, filsafat itu berasal dari islam. Bukan filsafat yunani tapi filsafat islam.

Filsafat diartikan sebagai berfikir yang bebas, radikal dan berada dalam dataran makna. Filsafat berasal dari kata philo artinya cinta, dan Sophia artinya kebijaksanaan. Jadi berfilsafat adalah berfikir radikal, radix artinya akar, jadi radikal artinya sampai keakar suatu masalah secara mendalam, bahkan melewati batas-batas pisik yang ada. Sebagai contoh, indera manusia menangkap gunung, tapi gunung dalam pikiran filsafat tidak hanya seonggok batu dan tanah saja, tapi lebih dalam dari itu. Apa sesungguhnya hakekat gunung itu? Dan keberadaannya menggambarkan makna apa bagi kehidupan manusia?

Berfilsafat adalah berfikir dalam tahap makna, ia mencari hakekat dari makna sesuatu atau keberadaan dan kehadiran.tak ada yang perlu ditakutkan dalam berpikir, tuhan beri kita akal tak lain hanya untuk mencari hakekat kebenaran, memikirkan yang ada hingga yang tiada.

Tapi harus diingat, dalam berpikir kita harus membedakan mana yang menjadi hak monopoli Allah dan hak manusia, atau kasarnya “mana daerah kekuasaan Allah dan mana daerah kekuasaan tanggung jawab manusia” apabila akal manusia tak sanggup dalam memikirkan suatu masalah berarti itulah hak monopoli Allah, tapi apabila manusia sanggup untuk memikirkannya itulah hak manusia. Tapi, hak manusia atau daerah kekuasaan manusia itu, bukan berarti Allah tak bisa campur tangan,namun pada hakekatnya hak itu hanya milik Allah SWT.

Filsafat islam bukan filsafat tentang islam, tapi filsafat islam artinya berpikir yang bebas, radikal dan berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak dan karakter yang menyelamatkan dan memberikan kedamaian hati.

Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa filsafat adalah anak kandung yang sah dari risalah kenabian. Dalam alquran dijelaskan bahwa nabi Muhammad Saw dibekali dengan kitab dan hikmah. Alquran 62:2 menjelaskan yang artinya “Dia (Allah) yang mengutus diantara orang-orang ummi, seorang rosul dari kalangan mereka, yang menjelaskan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata.


Yang dimaksud kitab adalah alquran sedangkan hikmah adalah filsafat. Dalam bahasa arab asli tidak ada kata filsafat karna filsafat asli dari bahasa yunani, sehingga karna alquran itu arabiyan, maka dengan sendirinya tidak ada didalamnya kata filsafat. Sedangkan hikmah asli arabiyan yang diartikan sebagai pengetahuan yang mendalam, kearifan dan kebijakan,yang diperoleh dari balik fakta-fakta kejadian atau peristiwa.

Posisi hikmah(filsafat)pada dasarnya sebagai penjelasan lebih jauh dan mendalam dari pemahamannya terhadap alquran. Posisi filsafat adalah posisi yang paling tepat untuk menjelaskan suatu doktrin. Mempelajari filsafat adalah sebagai filter atau benteng pertahanan terhadap serangan kaum liberal dan orientalis. Pada dasarnya membahas sesuatu yang bukan hak manusia adalah suatu bid’ah, tapi menurut saya, mempertanyakan dan membahas tentang hal itu boleh-boleh saja, mereka(orang-orang orientalis dan liberal) tak kenal apa itu bid’ah.

Dalam menggambarkan pribadi Muhammad saw dari sisi kitab dan hikmah seperti pada ayat diatas, bahwa nabi Muhammad dari sisi kitab beliau adalah seorang rosul yang dipilih untuk menerima wahyu kitab suci yaitu alquran. Sedangkan dari sisi hikmah ia adalah seorang filusuf yang dapat menjelaskan secara akurat dan menyeluruh tentang wahyu yang diterimanya dengan pemahaman yang mendalam yang dimilikinya.

Kitab(alquran) merupakan kumpulan dari firman-firman tuhan(Allah SWT) sebagai perwujudan dari ayat-ayat yang diwahyukan, sedangkan hikmah(filsafat) uraian pencerahan atas nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Allah untuk dapat menyikapi realitas dan perubahan masyarakat yang kompleks, yang tidak bisa dimengerti dan dipecahkan dengan hanya semata-mata mengandalkanpada rasionalitas. Oleh karena itu diperlukan munculnya wawasan tajam dari qolb yang bercahaya untuk memahami hakekat kebenaran.

Menurut ar-Razi , hikmah merupakan keutamaan ilmu dan amal, disebut hikmah karena ia berbentuk dari hukum dan perumusan berbagai masalah. Memperkuatnya dan merperjauhkannya dari berbagai sebab dan kelemahan. Disamakannya istilah hikmah dan filsafat adalah Karena antara keduanya hikmah dan filsafat secara umum membahas tentang Allah, alam dan manusia.

Filsafat dalam menggunakan akal saling mempunyai ketergantungan dengan wahyu Allah, wahyu tidak bisa berdiri sendiri sebagai pedoman hidup bagi manusia , ia justru bergantung pada kapasitas akal dalam memahaminya, tanpa akal justru wahyu akan kehilangan makna bagi kehidupan manusia. Namun ketergantungan fungsi wahyu pada akal, bukan berarti lantas akal bisa melakukan control dan koreksi atas wahyu, karna keberadaan wahyu sebagai firman Allah sepenuhnya bergantung pada Allah SWT.
Dan manusia tidak mempunyai otoritas sedikitpun untuk mengubah, apalagi menghapuskan atau membatalkannya.ketergantunngan wahyu pada akal hanya dalam kaitannya dengan fungsi wahyu sebagai pedoman hidup bagi mansia, dimana aktualisasinya sepenuhnya bergantung pada kapasitas akal dalam memahaminya.

Jadi, filsafat bukanlah anak haram islam, tapi filsafat adalah anak kandung islam.
Wallahu a’lam.

Sabtu, 31 Mei 2008

KATA AMERIKA.... MEREKA INI TERORIS...

Kach and Kahane Chai (Israel)
Abu Nidal Organization (ANO)
Al Shabaab (Somalia)
Abu Sayyaf Group
Al-Aqsa Martyrs Brigade
Ansar al-Islam
Armed Islamic Group (GIA)
Asbat al-Ansar
Aum Shinrikyo
Basque Fatherland and Liberty (ETA)
Communist Party of the Philippines/New People’s Army (CPP/NPA)
Continuity Irish Republican Army
Gama’a al-Islamiyya (Islamic Group)
HAMAS (Islamic Resistance Movement)
Harakat ul-Mujahidin (HUM)
Hizballah (Party of God)
Islamic Jihad Group
Islamic Movement of Uzbekistan (IMU)
Jaish-e-Mohammed (JEM) (Army of Mohammed)
Jemaah Islamiya organization (JI)
al-Jihad (Egyptian Islamic Jihad)
Kahane Chai (Kach)
Kongra-Gel (KGK, formerly Kurdistan Workers’ Party, PKK, KADEK)
Lashkar-e Tayyiba (LT) (Army of the Righteous)
Lashkar i Jhangvi
Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE)
Libyan Islamic Fighting Group (LIFG)
Moroccan Islamic Combatant Group (GICM)
Mujahedin-e Khalq Organization (MEK)
National Liberation Army (ELN)
Palestine Liberation Front (PLF)
Palestinian Islamic Jihad (PIJ)
Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLF)
PFLP-General Command (PFLP-GC)
Tanzim Qa’idat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn (QJBR) (al-Qaida in Iraq) (formerly Jama’at al-Tawhid wa’al-Jihad, JTJ, al-Zarqawi Network)
al-Qa’ida
al-Qaida in the Islamic Maghreb (formerly GSPC)
Real IRA
Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC)
Revolutionary Nuclei (formerly ELA)
Revolutionary Organization 17 November
Revolutionary People’s Liberation Party/Front (DHKP/C)
Shining Path (Sendero Luminoso, SL)
United Self-Defense Forces of Colombia (AUC)

BENER GA YA???... sepertinya amerika salah nih, masa sih mereka teroris...? setau saya jamaah islam seperti itu adalah para mujahid yang menentang para teroris-teroris laknat....

Selasa, 20 Mei 2008

Ini doa'ku..

seorang berdiri ditengah salju, sendirian
dia menengadahkan kepalanya ke langit
dan saat helaan nafasnya berubah menjadi kabut putih,
dia berdoa
” Tuhan,
Tuhanku di atas sana, di tempat aku tidak bisa menjangkaunya..
tolong dengarkanlah doaku ini
Aku tidak akan meminta lebih
karena selama ini
aku tidak pernah didengarkan…
Tuhan,
berikanlah aku sahabat yang baik
Yang mengerti aku apa adanya
Yang mau menemaniku di saat - saat sulit
dan saat - saat lapang
Tuhan,
berikanlah aku sahabat yang baik

Sahabat itu....

SAHABAT ITU...
Sosok makhluk yang begitu kita kenal, kita sering menyebutnya SAHABAT
Dia hadir,
Dia datang,
Dia ada,
dan dia begitu dekat dengan kita,
SAHABAT itu teman,
SAHABAT itu kawan,
SAHABAT itu Anugerah….
SAHABATKU teman Baikku…
SAHABATKU sosok Malaikatku….
SAHABATKU Belahan Jiwaku…
SAHABATKU Bagian dari hidupku…
Dia pembawa rasa itu
Dia yang menghadirkan sayang itu
Dia ceriakan hari-hariku…
Dialah Sahabatku…..
SAHABAT ITU cintaku….